SRMI Pokja Prima Nganjuk Studi Kelayakan Usaha Di TPST Kartoharjo (I)

 


Kalangwan Press Nganjuk- Sampah tidak boleh dianggap sebagai limbah,  Sampah harus jadi   Sumberdaya yakni menjadi peluang usaha mendukung kemandirian ekonomi kerakyatan. Demikian disampaikan Didit, Ketua Serikat Rakyat Mandiri Indonesia (SRMI) Nganjuk usai lakukan  Studi Kelayakan Usaha di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Kartoharjo dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) kabupaten Nganjuk  Senin (27 Desember)2021.

 “ Ya  menyongsong tahun baru 2022 ini, kita dari SRMI kelompok kerja Partai Prima Nganjuk, telah melaksanakan studi kelayakan usaha  di TPST Kartoharjo dan DLH Nganjuk. kita telah  menimba ilmu disana, alhamdullilah banyak sekali ilmu dan pengalaman yang bisa kita petik disana. terutama dari keramahan para pekerja TPST  dan  pelayanan Pejabat LH.” Ungkapnya

 Menerangkan maksud tujuan melakukan study kelayakan usaha tersebut ketua ormas berambut  keriting menjelaskan bahwa study ini selain  untuk membantu dalam merencanakan satu peluang  bisnis usaha, juga    mendapatkan gambaran bagaimana sebuah usaha  pengelolaan sampah yang diidentikan  dengan kotor dan tidak bisa dibuang sembarangan  ini bisa dijalankan agar  tidak membawa masalah baik banjir atau tanggul jebol di lingkungan kota Nganjuk, katanya.

 Sementara ditempat terpisah  Agus Hariadi Kabid Pengelolaan Sampah DLH Nganjuk melalui  Sumadi ST MKL Kepala Seksi,  mengatakan  sampah adalah bagian proses kehidupan dan kita semua menghasilkan sampah. Tapi menurutnya sampah ini harus dikembalikan ke alam melalui proses  pengolahan.




 

Terkait pengolahan Sumadi menyebut   Ditahun mula Mula mula berdirinya TPST.bertindak sebagai motifator,  Ia memberi contoh dan bimbingan tehnis untuk para pekerja TPST  . Maka dari proses   kondisi sampah yang semula identik dengan kotor bau  asumsi itu dapat ditepis  di TSPT . jangankan bau , lalatpun tidak dijumpai di TPST, tepisnya.

 

“Memang sampah harus dipilah yang organik kita komposterkankan dengan  alat Komposter ubnderground  yang hanya di kota Nganjuk yang punya. TPSt itu dari tahun ketahun progresnya baik dan inovatif sekali.

 

Diuraikan dengan menerapkan sistem sirkulasi tidak ada sampah yang dibuang kemana- mana,   jadi sampah  selalu tertampung dan terolah,  bahwa dalam waktu 32 hari  setiap satu kotak dari 7 kotak yang ada di TPST itu  akan terisi penuh. Kemudian geser – geser kekotak yang lain. Dan pada giliran kotak ke 7 kotak yang pertama sudah bisa dipanen.

 

“ Komposter non agitasi pertama panen, komposter ke tujuh belum terisi penuh sampah organik. Setidaknya diusia 3 bulan TPST itu sudah bisa menghasilkan kompos . Ini baru dari  hasil sampah organik belum lagi hasil  dari sampah ekonomis  mulai kertas, plastic, botol- botol, logam (aluminium) dengan demikian  setiap 32 hari mendapat kompos  dan setiap minggu mendapat hasil dari sampah ekonomis. Dengan menghasilkan kompos ini artinya sudah bisa menghasilkan uang” tuturnya.

 

Bahkan dengan mendapat keberhasilan mengolah sampah menjadi kompos potensi usaha ternyata akan berkembang usahanya tidak sekedar kompos pasti akan membuat media tanam. Kemudian Dengan media tanam akan memnbuat pembibitan.

 

“ Makanya di TPST ini produknya menjadi variatif diantaranya  itu ada penjualan bunga, sayuran, kerajinan , cacahan plastik,kompos dan media tanam dan lain lain.  

 

Diakhir bincang bincang dengan Kalangwan Press,   Kasi yang  dapat ditemui dikantor hanya waktu pagi ini mengatakan TPST  itu  milik Masyarakat yang dibangun Pemerintah. TPST itu Pengelola  masyarakat . Prinsipnya direncanakan, dioperasionalkan Masyarakat  dan membawa keuntungan untuk masyarakat, ujarnya.

 

“Desa itu kalau mempunyai keinginan desanya bersih, hijau, cantik pasti sampahnya dikelola . kalau tidak ya tak mungkin bisa.Untuk bisa bersih pasti dikelola bisa membuat kompos. Untuk bisa hijau pasti butuh kompos ,  untuk bisa cantik perlu bunga, dan bunga yang segar pasti membutuhkan nutrisi, sedang nutrisi ya alami ya paling tidak ya butuh kompos.Bahkan  Deretan regulasi yang mengatur tentang kewenangan Desa  dan prioritas penanganan lingkungan. TPST dikelola desa? Mengelola limbah menjadi potensi ekonomi Kenapa tidak ! (sur* bersambung)

 

Redaktur Kalangwanpress

Memberitakan dan Menginformasikan sesuai Data dan Fakta

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama